Tampilkan postingan dengan label Filsafat Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat Cinta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juli 2016

Kahlil gibran tidak usah diragukan ketenarannya sebagai penyair, sastrawan dan pemikir sosial. Bahkan Kahlil Gibran dijadikan simbol cinta dan layak disejajarkan dengan figur seperti William Shakespeare, Leo Tolstoy ataupun Rabindranath Tagore. 
kata bijak filsafat cinta karya kahlil gibran
 Dimana ia mampu membuat bahasa beserta nilai-nilai magisnya, sanggup menyulap kehidupan keseharian yang sederhana, menjadi sedemikian menggetarkan, tidak biasa, melainkan juga seolah mengukuhkan pandangan jamak bahwa tidak ada yang tidak mungkin di tangan bahasa, lantaran bahasa bukanlah yang diajarkan manusia, melainkan justru manusialah yang belajar darinya.

FILSAFAT CINTA KAHLIL GIBRAN Bag 3

Kahlil gibran tidak usah diragukan ketenarannya sebagai penyair, sastrawan dan pemikir sosial. Bahkan Kahlil Gibran dijadikan simbol cinta dan layak disejajarkan dengan figur seperti William Shakespeare, Leo Tolstoy ataupun Rabindranath Tagore. 
kata bijak filsafat cinta karya kahlil gibran
 Dimana ia mampu membuat bahasa beserta nilai-nilai magisnya, sanggup menyulap kehidupan keseharian yang sederhana, menjadi sedemikian menggetarkan, tidak biasa, melainkan juga seolah mengukuhkan pandangan jamak bahwa tidak ada yang tidak mungkin di tangan bahasa, lantaran bahasa bukanlah yang diajarkan manusia, melainkan justru manusialah yang belajar darinya.

Rabu, 17 Juli 2013


//
Filsafat Melankolik tentang Cinta

“I am standing in love with you.” begitulah ungkapan yang lebih tepat menurut Erich Fromm, dan bukan “I am falling in love with you”. Melalui artikel ini, saya hendak mendiskusikan persoalan ini secara filosofis.

Sebelumnya saya hendak mengurai apa yang saya pahami dan percayai tentang konsep cinta. Cinta itu cinta ketika dia tidak destruktif. Cinta adalah perasaan keterikatan yang mendalam – ibarat jiwa manusia itu berlapis, mencintai mampu menembusnya; untuk si pecinta atau yang dicintai, sepihak, atau dua belah pihak. Cinta menyatukan kita dengan dunia – si objek cinta dan oranglain sebagai manusia, sekaligus membuat kita juga independen. Kita tidak menjadi budaknya atau penguasanya, tetapi kita menjadi diri kita dalam artian yang sesungguhnya. Singkat kata, cinta memampukan kita merelasikan diri dengan elemen-elemen lain di kosmik ini – apapun manifestasinyakesadaran internal atau eksternal, mental atau instrumental. Tergantung dari derajat yang tumbuh dalam diri kita ketika mencintai. Cinta idealnya membuat kita produktif sebagai manusia melampaui sekat-sekat yang dibangun oleh produk sosial yang massif. Kita mencipta dengan cinta, alih-alih merusak – terlepas dari apapun, siapapun, dan bagaimanapun objek cinta kita – karena objek cinta kita sendiri juga anasir yang independen.
Dalam hidup ini manusia mencari makna. Buat saya makna itu fragmen hakiki yang dicari oleh manusia ketika dia hidup – tak dari sekedar konformitas atau konsensus yang dibebankan kepadanya, tapi dari ke-diri-annya sebagai individu. Makna ini membuat manusia memahami, pelan-pelan, meski takkan pernah utuh, akan keberadaannya, identitasnya, segala sesuatu yang berada dalam dirinya dan relasinya dengan dunia.
Saya membagi perspektif mencintai ke dalam dua ranah: (1) Realita aktual (hal-hal realistis, fungsional, dan pragmatis) dan (2) Realita potensial (memiliki kecenderungan dan kemampuan untuk terwujud ataupun tidak terwujud karena ada secara inheren, dan abstrak). Keduanya tak sepenuhnya terpisah, karena dalam derajat tertentu kita harus memadukan kedua realita itu.

(1)    Realita Aktual: Pragmatis-Fungsional
Tak terhindarkan bahwa kata ‘cinta’ mengalami komodifikasi, eksploitasi, dan manipulasi sebagai bahan industri budaya massa. Atas nama ‘cinta’ kita digempur oleh lagu-lagu ‘cengeng’, sinetron-sinetron dungu, dsbnya. Cintapun mengalami pendangkalan. Di satu sisi sistem sosial kita telah memapankan institusi, pengakuan, dan formalisasi atas nama cinta – bahwa dua orang yang mencintai harus di’status’kan – menikah, pacaran, tunangan, apapun itu. Dalam tahap ini, cinta mengalami ‘pem-bumi-an’, dan tentu saja hal ini memang perlu.
Ketika kita mencintai, kita tak bisa ‘makan’ cinta – kita harus beradaptasi dengan seperangkat norma dan kebutuhan sosial untuk bertahan. Di satu sisi, muncul anggapan yaitu ketika kita mencinta, kita perlu menuntut hal yang sama dari orang yang kita cintai. Kita harus mencintai dengan imbal balik. Pamrih. Kalau orang itu menolak, maka seperti saklar yang dimatikan, cinta kita bisa lenyap seketika – atau dilenyapkan paksa demi mencegah kita dari terluka.
Pragmatisme pun muncul. Gugatan seperti “Untuk apa saya cinta dia kalau dia tidak pernah ‘memberi’ saya apa-apa?” muncul dalam beragam bentuk, cinta diasumsikan seperti alat barter. Kita beri ke seseorang supaya kita dapat yang kita inginkan, entah barang, atau kata ‘cinta’ dari mulutnya. Cinta yang awalnya dirayakan sebagai sesuatu yang instingtif lalu sekedar menjadi suplemen ketika dihadapkan pada tuntutan konformitas sosial: cinta harus didampingi oleh kemampuan menghasilkan uang (menafkahi), menyediakan fasilitas (barang, rumah, dsbnya), dan memenuhi kebutuhan pokok (makanan, seks, dsbnya). Meski dalam banyak kasus hal ini berjalan baik bagi banyak manusia – setidaknya di permukaan, kadang dengan tuntutan-tuntutan ini dalam perjalanannya cinta mengalami pembusukan dan ‘materialisasi’ karena kegagalan meredefinisi cinta. Akibatnya, cinta bertransformasi menjadi sekedar ilusi, perekat usang, dan bermutasi menjadi destruktif.
Di satu sisi ada argumen bahwa cinta bisa tumbuh seiring dengan terpenuhinya kebutuhan atau kewajiban kita yang lain. Menurut mereka, cinta bisa tumbuh kemudian. Ada juga yang menganggap cinta urusan belakangan yang penting mereka menikah untuk alasan misi keagamaan, kehormatan keluarga, status sosial, atau sokongan finansial. Ada juga yang mencatut embel-embel ‘cinta’ demi sekedar mendapat kepuasan seksual atau status tertentu di lingkungannya.
Dari sini, ‘cinta’ dicatut secara mekanis. Sementara cinta sejati amat mungkin timbul dari proses ini, namun ada konsekuensi yang rada aneh. Ketika sistem perjodohan yang berlangsung lewat mekanisasi ini gagal, si pelamar cinta bisa dengan mudah beralih ke pencarian lain. ”Lamaran saya ditolak si fulan. Bisa tolong carikan yang lain?”
Atau sebaliknya. Ketika seseorang jatuh cinta, dan cintanya tidak berujung pada adanya timbal balik dari si objek cinta atau formalisasi, si pecinta ini jatuh pada keputusasaan, frustrasi, kemarahan, kekecewaan mendalam, atau akhirnya menjadi destruktif. Seringkali hal ini disebabkan karena ketika dia merasakan ’cinta’ maka cinta itu menjadi suplemen pragmatismenya. Dia memberi dan menuntut materialisasi dari cintanya.
Alhasil, dampak dari pragmatisme cinta adalah ketika kita hanya ingin dan berani mencintai kalau ada pamrih, janji, garasi, atau ’uang muka’.
Hal itu sah saja kalau dilihat dari sudut pandang bahwa manusia pada satu level hidupnya menginginkan rasa aman melalui apapun – ”peduli setan” dangkal atau mendalam, yang penting ada stimulus ’bahagia’. Namun untuk tulisan ini saya hendak membagi wacana tentang cinta secara filosofis, yaitu cinta substantif dan transenden. Menurut saya ini prinsipil kalau kita hendak bicara pada level lain dalam hidup manusia, dan saya percaya kedua level realita ini dimungkinkan berjalan simultan.
(2)    Realita Potensial: Substantif-Transenden
Secara garis besar, paparan definitif dalam poin kedua ini sudah saya tulis di awal – yaitu terkait dengan produktivitas, relasi dengan kosmik dan manusia, sekaligus peneguhan independensi kita sebagai individu. Karena itu, saya pikir, ketika kita mencintai secara substantif maka ia menjadi substance – inti terpenting dalam ke-diri-an kita, yang menimbulkan dorongan untuk memberi kepada si objek cinta. Memberi dalam bentuk apapun, karena secara naluriah kita menjadi produktif.
Kita merasa ada bagian dari fragmen di diri kita yang terlengkapi. Kita merasa menemukan makna dari semrawut serpih-serpih hidup kita yang penuh tanda tanya. Kita dikonfrontasikan oleh paradoks: munculnya kebingungan sekaligus jawaban, kepedihan sekaligus kebahagiaan, masa lalu sekaligus masa depan.
Momennya berkisar seputar penundaan sempurna – tiada yang utuh, tunggal, absolut – tapi ada yang membuat kita menyanggupi.
Mencintai itu substantif dalam artian kita berani. Kita berani untuk mencintai tanpa bergantung sepenuhnya pada ekspektasi imbalan. Kita melihat si objek cinta dengan kepedulian dan merecapi rasa cinta sebagai bagian dari kesadaran akan eksistensi kita, dan bukan tumbuh dari materialisme yang mengitari kita. Kita berani untuk menghadapi rasa takut itu – takut ditolak, dilukai, tak terwujud secara institusi, tak diakui, tak bisa memenuhi prasyarat-prasyarat sosial dan material, dsbnya – karena mencintai berada jauh di inti.
Mencintai tak membuat kita mengurung diri di kamar dalam sentimentalisme tanpa akhir. Mencintai justru membuat kita ingin melangkah ke luar dan menyapa kehidupan. Kita akan berkreasi. Secara otomatis dorongan mencintai membuat kita tak bergantung pada suplemen kehidupan, melainkan membuat kita ingin meraihnya. Cintalah yang sebagian menjadi penggerak kita untuk mendapat fasilitas dan hal-hal material dalam hidup, bukan kebalikannya. Mencintai membuat kita emosional, tapi juga rasional. Terkait tapi mandiri. Kita berpikir, tak hanya melamun. Kita berproduksi, tak menuntut konsumsi. Mencintai juga tidak mendehumanisasi, memaksa, maupun menjadikan kita budak. Kita bisa kehilangan rasa cinta ketika sudah terjadi unsur destruktif – baik dari diri kita atau objek cinta kita, dan itu adalah pilihan rasional dan manusiawi.
Mencintai itu transenden dalam artian ia melampaui sekat-sekat yang berada di sekitar kita dan kotak sosial yang kita terkubang di dalamnya. Bukan berarti hal-hal semacam itu tak penting, namun formalisasi dan pengakuan akan cinta kita adalah perayaan sosial – artinya, dirayakan syukur, tidak dirayakan pun tak apa. Cinta substantif hanya dapat dirasakan saat momen transendensi itu meretas dalam pengalaman kita. Kapasitasnya yang inheren di dalam diri kita tak berkurang oleh penolakan maupun ketiadaan pengakuan atau formalisasi. Kekuatan transendennya akan merayakan rasa berbalas, formalisasi, status, pamrih dan fasilitas fisik dan material yang mungkin kita dapat dari si objek cinta, tapi juga akan menyanggupi rasa ‘luka’ – karena mencintai itu sendiri telah menyanggupi kita sebagai individu yang independen.
Dalam tahap ini, elemen-elemen pragmatis tak menjadi prasyarat – karena dia perlahan akan hadir dengan sendirinya – dan yang relevan adalah bahwa kita standing in love, bukan falling in love. Ketika kita mencintai, kita tidak jatuh, melainkan mendampingi dengan kedua kaki kita yang berdiri melampaui apa-apa yang tersekat, terbebankan, dan terkomodifikasi. Cinta eksis dalam perayaan sosial atau dalam kesunyian yang mempesona, mungkin kelam atau tidak. Tapi itulah makna.

Sumber 
http://rizkiaffiat.wordpress.com

RUMUS CINTA | FILSAFAT MELANKOLIK TENTANG CINTA


//
Filsafat Melankolik tentang Cinta

“I am standing in love with you.” begitulah ungkapan yang lebih tepat menurut Erich Fromm, dan bukan “I am falling in love with you”. Melalui artikel ini, saya hendak mendiskusikan persoalan ini secara filosofis.

Sebelumnya saya hendak mengurai apa yang saya pahami dan percayai tentang konsep cinta. Cinta itu cinta ketika dia tidak destruktif. Cinta adalah perasaan keterikatan yang mendalam – ibarat jiwa manusia itu berlapis, mencintai mampu menembusnya; untuk si pecinta atau yang dicintai, sepihak, atau dua belah pihak. Cinta menyatukan kita dengan dunia – si objek cinta dan oranglain sebagai manusia, sekaligus membuat kita juga independen. Kita tidak menjadi budaknya atau penguasanya, tetapi kita menjadi diri kita dalam artian yang sesungguhnya. Singkat kata, cinta memampukan kita merelasikan diri dengan elemen-elemen lain di kosmik ini – apapun manifestasinyakesadaran internal atau eksternal, mental atau instrumental. Tergantung dari derajat yang tumbuh dalam diri kita ketika mencintai. Cinta idealnya membuat kita produktif sebagai manusia melampaui sekat-sekat yang dibangun oleh produk sosial yang massif. Kita mencipta dengan cinta, alih-alih merusak – terlepas dari apapun, siapapun, dan bagaimanapun objek cinta kita – karena objek cinta kita sendiri juga anasir yang independen.
Dalam hidup ini manusia mencari makna. Buat saya makna itu fragmen hakiki yang dicari oleh manusia ketika dia hidup – tak dari sekedar konformitas atau konsensus yang dibebankan kepadanya, tapi dari ke-diri-annya sebagai individu. Makna ini membuat manusia memahami, pelan-pelan, meski takkan pernah utuh, akan keberadaannya, identitasnya, segala sesuatu yang berada dalam dirinya dan relasinya dengan dunia.
Saya membagi perspektif mencintai ke dalam dua ranah: (1) Realita aktual (hal-hal realistis, fungsional, dan pragmatis) dan (2) Realita potensial (memiliki kecenderungan dan kemampuan untuk terwujud ataupun tidak terwujud karena ada secara inheren, dan abstrak). Keduanya tak sepenuhnya terpisah, karena dalam derajat tertentu kita harus memadukan kedua realita itu.

(1)    Realita Aktual: Pragmatis-Fungsional
Tak terhindarkan bahwa kata ‘cinta’ mengalami komodifikasi, eksploitasi, dan manipulasi sebagai bahan industri budaya massa. Atas nama ‘cinta’ kita digempur oleh lagu-lagu ‘cengeng’, sinetron-sinetron dungu, dsbnya. Cintapun mengalami pendangkalan. Di satu sisi sistem sosial kita telah memapankan institusi, pengakuan, dan formalisasi atas nama cinta – bahwa dua orang yang mencintai harus di’status’kan – menikah, pacaran, tunangan, apapun itu. Dalam tahap ini, cinta mengalami ‘pem-bumi-an’, dan tentu saja hal ini memang perlu.
Ketika kita mencintai, kita tak bisa ‘makan’ cinta – kita harus beradaptasi dengan seperangkat norma dan kebutuhan sosial untuk bertahan. Di satu sisi, muncul anggapan yaitu ketika kita mencinta, kita perlu menuntut hal yang sama dari orang yang kita cintai. Kita harus mencintai dengan imbal balik. Pamrih. Kalau orang itu menolak, maka seperti saklar yang dimatikan, cinta kita bisa lenyap seketika – atau dilenyapkan paksa demi mencegah kita dari terluka.
Pragmatisme pun muncul. Gugatan seperti “Untuk apa saya cinta dia kalau dia tidak pernah ‘memberi’ saya apa-apa?” muncul dalam beragam bentuk, cinta diasumsikan seperti alat barter. Kita beri ke seseorang supaya kita dapat yang kita inginkan, entah barang, atau kata ‘cinta’ dari mulutnya. Cinta yang awalnya dirayakan sebagai sesuatu yang instingtif lalu sekedar menjadi suplemen ketika dihadapkan pada tuntutan konformitas sosial: cinta harus didampingi oleh kemampuan menghasilkan uang (menafkahi), menyediakan fasilitas (barang, rumah, dsbnya), dan memenuhi kebutuhan pokok (makanan, seks, dsbnya). Meski dalam banyak kasus hal ini berjalan baik bagi banyak manusia – setidaknya di permukaan, kadang dengan tuntutan-tuntutan ini dalam perjalanannya cinta mengalami pembusukan dan ‘materialisasi’ karena kegagalan meredefinisi cinta. Akibatnya, cinta bertransformasi menjadi sekedar ilusi, perekat usang, dan bermutasi menjadi destruktif.
Di satu sisi ada argumen bahwa cinta bisa tumbuh seiring dengan terpenuhinya kebutuhan atau kewajiban kita yang lain. Menurut mereka, cinta bisa tumbuh kemudian. Ada juga yang menganggap cinta urusan belakangan yang penting mereka menikah untuk alasan misi keagamaan, kehormatan keluarga, status sosial, atau sokongan finansial. Ada juga yang mencatut embel-embel ‘cinta’ demi sekedar mendapat kepuasan seksual atau status tertentu di lingkungannya.
Dari sini, ‘cinta’ dicatut secara mekanis. Sementara cinta sejati amat mungkin timbul dari proses ini, namun ada konsekuensi yang rada aneh. Ketika sistem perjodohan yang berlangsung lewat mekanisasi ini gagal, si pelamar cinta bisa dengan mudah beralih ke pencarian lain. ”Lamaran saya ditolak si fulan. Bisa tolong carikan yang lain?”
Atau sebaliknya. Ketika seseorang jatuh cinta, dan cintanya tidak berujung pada adanya timbal balik dari si objek cinta atau formalisasi, si pecinta ini jatuh pada keputusasaan, frustrasi, kemarahan, kekecewaan mendalam, atau akhirnya menjadi destruktif. Seringkali hal ini disebabkan karena ketika dia merasakan ’cinta’ maka cinta itu menjadi suplemen pragmatismenya. Dia memberi dan menuntut materialisasi dari cintanya.
Alhasil, dampak dari pragmatisme cinta adalah ketika kita hanya ingin dan berani mencintai kalau ada pamrih, janji, garasi, atau ’uang muka’.
Hal itu sah saja kalau dilihat dari sudut pandang bahwa manusia pada satu level hidupnya menginginkan rasa aman melalui apapun – ”peduli setan” dangkal atau mendalam, yang penting ada stimulus ’bahagia’. Namun untuk tulisan ini saya hendak membagi wacana tentang cinta secara filosofis, yaitu cinta substantif dan transenden. Menurut saya ini prinsipil kalau kita hendak bicara pada level lain dalam hidup manusia, dan saya percaya kedua level realita ini dimungkinkan berjalan simultan.
(2)    Realita Potensial: Substantif-Transenden
Secara garis besar, paparan definitif dalam poin kedua ini sudah saya tulis di awal – yaitu terkait dengan produktivitas, relasi dengan kosmik dan manusia, sekaligus peneguhan independensi kita sebagai individu. Karena itu, saya pikir, ketika kita mencintai secara substantif maka ia menjadi substance – inti terpenting dalam ke-diri-an kita, yang menimbulkan dorongan untuk memberi kepada si objek cinta. Memberi dalam bentuk apapun, karena secara naluriah kita menjadi produktif.
Kita merasa ada bagian dari fragmen di diri kita yang terlengkapi. Kita merasa menemukan makna dari semrawut serpih-serpih hidup kita yang penuh tanda tanya. Kita dikonfrontasikan oleh paradoks: munculnya kebingungan sekaligus jawaban, kepedihan sekaligus kebahagiaan, masa lalu sekaligus masa depan.
Momennya berkisar seputar penundaan sempurna – tiada yang utuh, tunggal, absolut – tapi ada yang membuat kita menyanggupi.
Mencintai itu substantif dalam artian kita berani. Kita berani untuk mencintai tanpa bergantung sepenuhnya pada ekspektasi imbalan. Kita melihat si objek cinta dengan kepedulian dan merecapi rasa cinta sebagai bagian dari kesadaran akan eksistensi kita, dan bukan tumbuh dari materialisme yang mengitari kita. Kita berani untuk menghadapi rasa takut itu – takut ditolak, dilukai, tak terwujud secara institusi, tak diakui, tak bisa memenuhi prasyarat-prasyarat sosial dan material, dsbnya – karena mencintai berada jauh di inti.
Mencintai tak membuat kita mengurung diri di kamar dalam sentimentalisme tanpa akhir. Mencintai justru membuat kita ingin melangkah ke luar dan menyapa kehidupan. Kita akan berkreasi. Secara otomatis dorongan mencintai membuat kita tak bergantung pada suplemen kehidupan, melainkan membuat kita ingin meraihnya. Cintalah yang sebagian menjadi penggerak kita untuk mendapat fasilitas dan hal-hal material dalam hidup, bukan kebalikannya. Mencintai membuat kita emosional, tapi juga rasional. Terkait tapi mandiri. Kita berpikir, tak hanya melamun. Kita berproduksi, tak menuntut konsumsi. Mencintai juga tidak mendehumanisasi, memaksa, maupun menjadikan kita budak. Kita bisa kehilangan rasa cinta ketika sudah terjadi unsur destruktif – baik dari diri kita atau objek cinta kita, dan itu adalah pilihan rasional dan manusiawi.
Mencintai itu transenden dalam artian ia melampaui sekat-sekat yang berada di sekitar kita dan kotak sosial yang kita terkubang di dalamnya. Bukan berarti hal-hal semacam itu tak penting, namun formalisasi dan pengakuan akan cinta kita adalah perayaan sosial – artinya, dirayakan syukur, tidak dirayakan pun tak apa. Cinta substantif hanya dapat dirasakan saat momen transendensi itu meretas dalam pengalaman kita. Kapasitasnya yang inheren di dalam diri kita tak berkurang oleh penolakan maupun ketiadaan pengakuan atau formalisasi. Kekuatan transendennya akan merayakan rasa berbalas, formalisasi, status, pamrih dan fasilitas fisik dan material yang mungkin kita dapat dari si objek cinta, tapi juga akan menyanggupi rasa ‘luka’ – karena mencintai itu sendiri telah menyanggupi kita sebagai individu yang independen.
Dalam tahap ini, elemen-elemen pragmatis tak menjadi prasyarat – karena dia perlahan akan hadir dengan sendirinya – dan yang relevan adalah bahwa kita standing in love, bukan falling in love. Ketika kita mencintai, kita tidak jatuh, melainkan mendampingi dengan kedua kaki kita yang berdiri melampaui apa-apa yang tersekat, terbebankan, dan terkomodifikasi. Cinta eksis dalam perayaan sosial atau dalam kesunyian yang mempesona, mungkin kelam atau tidak. Tapi itulah makna.

Sumber 
http://rizkiaffiat.wordpress.com

Filsafat Cinta Versi Plato

Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya? Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?” Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja,dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”
Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”

FILSAFAT CINTA Versi PLATO

Filsafat Cinta Versi Plato

Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya? Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?” Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja,dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”
Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”
Cinta adalah suatu perjalanan, di dalamnya terdapat banyak hal, pengalaman, dan kenangan. Cinta itu rumit, berbelit belit dan membingungkan. Namun banyak pula jiwa yang terselamatkan karena cinta. Cinta itu membahagiakan dan dibahagiakan. Memberi dan diberi. Mendoakan orang yang mencintaimu, itu ketulusan. Mendoakan orang yang menyakitimu, itu kedewasaan. Karena kehidupan baru saja dimulai, sesaat setelah kita saling jatuh cinta dan melukiskan senja di dunia. Selamat menjelajahi lautan cinta ...



Hidup penuh pengorbanan
Pengorbanan perlukan perjuangan
Perjuangan perlukan ketabahan
Ketabahan perlukan keyakinan
Keyakinan pula menentukan kejayaan
Kejayaan pula menentukan kebahagian.

"Please remember me and keep my hearth from the hammer of jealous."

"To Love is Nothing.. To be Loved is Something.. To Love and be Loved is Everything.."

Saat cinta meninggalkanmu
Segera bangkit dan temukan cinta yang baru!
Hidup ini terlalu singkat jika hanya untuk duduk bersama kesedihan.








Kumpulan Puisi Cinta Terbaik 2013

"Cinta apa yang kamu miliki dan milikilah apa yang kamu cintai."

Keyakinan terbesar dalam hidup adalah keyakinan bahwa kita dicintai, dicintai apa adanya, atau bahkan yang lebih baik, dicintai meskipun tidak layak dicintai.

Aku takkan menyesali apa yang sudah pergi,
dan aku takkan menangisi apa yang sudah tiada,
tapi aku akan bangkit dan membina kembali apa yang telah hilang dan pergi.

Kalau cinta mampu bicara, mungkin sulam rindu yang kuberi mampu kau pahami butirnya.
Kalau cinta mampu bernada, mungkin pedih yang melarat bisa kau sekat dari hadirnya.
Kalau cinta itu santun kata, maka biarkan kita berpantun dengan madah penuh tanda tanya.
dan, Kalau cinta itu adalah luka, maka biar kering segalanya hingga tinggal parut tak tersisa.

Melihatmu senyum ceria hatiku merasa bahagia
Laksana hujan tiba-tiba setelah kemarau lama.
Mendengar engkau tertawa hatiku makin bahagia
Serasa aku engkau bawa keruang indahnya cinta.
Mendengar engkau berkata bahwa rasamu rasaku juga hatiku sangat-sangat bahagia
Laksana duania milik berdua.

Bahagia bukan berarti memiliki semua yang kita cintai.
Bahagia itu mencintai semua yang kita miliki.

Jika rindu ini bertahta, aku harap biarlah untuk Allah.
Andai rindu ini menarik resah kepadaMu aku pasrah.
Andai pencarian ini masih belum kutemui, Ya Allah damaikanlah hati.
Biarlah resah menarik sepi,
Biarlah kecewa meratap pergi,
Biarlah kasih mengikat diri,
Ya Muhaimin kepadaMu aku mengadu hati,
Serikanlah taman hati bukan kepada fikirku tapi pada redhaMu.

Aku menyayangimu... tak seperti sabun mandi... semakin lama dipakai semakin menipis dan habis.
Tetapi aku menyayangimu... seperti rambut... semakin lama semakin panjang, biarpun dipotong tetap aja numbuh... :)

Setitik kasih membuat kita sayang,
Seucap janji membuat kita percaya,
Sekecil luka membuat kita kecewa.

Aku tak perlu berpidato dan berorasi untuk katakan "AKU CINTA KAMU!"

Cinta sejati mendengar apa yang tidak dikatakan,
Mengerti apa yang tidak dijelaskan,
Sebab cinta tidak datang dari bibir, lidah, atau pikiran.
Melaikan... "HATI."

Bedanya kamu sama kerupuk?
Kalo kerupuk pelengkap makanan,
Kalo kamu pelengkap hidupku.

Love isn't finding someone you can live with it's finding semeone you can't live without!!

True love covers the eye to see no wrong.
True love darken reason to consider every situation.
True love loves most when it hurt much.
True love is still true even to the point of letting go.

Mendengarkanmu adalah caraku untuk mencintaimu.
Sederhana tapi tidak sesederhana itu.

Kebahagian memiliki cinta adalah kepastian bahwa kamu dicintai apa adanya,
Dicintai walaupun kamu tetap menjadi diri kamu apa adanya.

Aku bukanlah orang yang hebat,
Tapi ku mau belajar dari orang yang hebat.
Aku adalah orang biasa tapi aku ingin menjadi orang yang luar biasa.
Dan aku bukanlah orang yang istimewa,
Tapi aku ingin membuat seseorang menjadi istimewa.






Kumpulan Puisi Cinta Terbaik 2013


"Lelah ini hanyalah gambaran dari sebuah perjuangan untuk kita."

Maafin aku ya.. dah bikin kamu kecewa..
Aku sayang banget sama kamu..
Aku.. aku.. benar-benar menyesal..
Semua memang salahku..
Aku menginginkan dirimu..
Aku tak sanggup..
Percayalah.. percayalah padaku.. pada hatiku...

"Bahagia itu Pilihan"
Membangkitkan kedewasaan spiritual, menciptakan kebahagian total.

Segitu dulu Kumpulan Filsafat Cinta Terbaik, semoga dapat inspirasi..

Kumpulan Puisi Cinta Terbaik 2013

Cinta adalah suatu perjalanan, di dalamnya terdapat banyak hal, pengalaman, dan kenangan. Cinta itu rumit, berbelit belit dan membingungkan. Namun banyak pula jiwa yang terselamatkan karena cinta. Cinta itu membahagiakan dan dibahagiakan. Memberi dan diberi. Mendoakan orang yang mencintaimu, itu ketulusan. Mendoakan orang yang menyakitimu, itu kedewasaan. Karena kehidupan baru saja dimulai, sesaat setelah kita saling jatuh cinta dan melukiskan senja di dunia. Selamat menjelajahi lautan cinta ...



Hidup penuh pengorbanan
Pengorbanan perlukan perjuangan
Perjuangan perlukan ketabahan
Ketabahan perlukan keyakinan
Keyakinan pula menentukan kejayaan
Kejayaan pula menentukan kebahagian.

"Please remember me and keep my hearth from the hammer of jealous."

"To Love is Nothing.. To be Loved is Something.. To Love and be Loved is Everything.."

Saat cinta meninggalkanmu
Segera bangkit dan temukan cinta yang baru!
Hidup ini terlalu singkat jika hanya untuk duduk bersama kesedihan.








Kumpulan Puisi Cinta Terbaik 2013

"Cinta apa yang kamu miliki dan milikilah apa yang kamu cintai."

Keyakinan terbesar dalam hidup adalah keyakinan bahwa kita dicintai, dicintai apa adanya, atau bahkan yang lebih baik, dicintai meskipun tidak layak dicintai.

Aku takkan menyesali apa yang sudah pergi,
dan aku takkan menangisi apa yang sudah tiada,
tapi aku akan bangkit dan membina kembali apa yang telah hilang dan pergi.

Kalau cinta mampu bicara, mungkin sulam rindu yang kuberi mampu kau pahami butirnya.
Kalau cinta mampu bernada, mungkin pedih yang melarat bisa kau sekat dari hadirnya.
Kalau cinta itu santun kata, maka biarkan kita berpantun dengan madah penuh tanda tanya.
dan, Kalau cinta itu adalah luka, maka biar kering segalanya hingga tinggal parut tak tersisa.

Melihatmu senyum ceria hatiku merasa bahagia
Laksana hujan tiba-tiba setelah kemarau lama.
Mendengar engkau tertawa hatiku makin bahagia
Serasa aku engkau bawa keruang indahnya cinta.
Mendengar engkau berkata bahwa rasamu rasaku juga hatiku sangat-sangat bahagia
Laksana duania milik berdua.

Bahagia bukan berarti memiliki semua yang kita cintai.
Bahagia itu mencintai semua yang kita miliki.

Jika rindu ini bertahta, aku harap biarlah untuk Allah.
Andai rindu ini menarik resah kepadaMu aku pasrah.
Andai pencarian ini masih belum kutemui, Ya Allah damaikanlah hati.
Biarlah resah menarik sepi,
Biarlah kecewa meratap pergi,
Biarlah kasih mengikat diri,
Ya Muhaimin kepadaMu aku mengadu hati,
Serikanlah taman hati bukan kepada fikirku tapi pada redhaMu.

Aku menyayangimu... tak seperti sabun mandi... semakin lama dipakai semakin menipis dan habis.
Tetapi aku menyayangimu... seperti rambut... semakin lama semakin panjang, biarpun dipotong tetap aja numbuh... :)

Setitik kasih membuat kita sayang,
Seucap janji membuat kita percaya,
Sekecil luka membuat kita kecewa.

Aku tak perlu berpidato dan berorasi untuk katakan "AKU CINTA KAMU!"

Cinta sejati mendengar apa yang tidak dikatakan,
Mengerti apa yang tidak dijelaskan,
Sebab cinta tidak datang dari bibir, lidah, atau pikiran.
Melaikan... "HATI."

Bedanya kamu sama kerupuk?
Kalo kerupuk pelengkap makanan,
Kalo kamu pelengkap hidupku.

Love isn't finding someone you can live with it's finding semeone you can't live without!!

True love covers the eye to see no wrong.
True love darken reason to consider every situation.
True love loves most when it hurt much.
True love is still true even to the point of letting go.

Mendengarkanmu adalah caraku untuk mencintaimu.
Sederhana tapi tidak sesederhana itu.

Kebahagian memiliki cinta adalah kepastian bahwa kamu dicintai apa adanya,
Dicintai walaupun kamu tetap menjadi diri kamu apa adanya.

Aku bukanlah orang yang hebat,
Tapi ku mau belajar dari orang yang hebat.
Aku adalah orang biasa tapi aku ingin menjadi orang yang luar biasa.
Dan aku bukanlah orang yang istimewa,
Tapi aku ingin membuat seseorang menjadi istimewa.






Kumpulan Puisi Cinta Terbaik 2013


"Lelah ini hanyalah gambaran dari sebuah perjuangan untuk kita."

Maafin aku ya.. dah bikin kamu kecewa..
Aku sayang banget sama kamu..
Aku.. aku.. benar-benar menyesal..
Semua memang salahku..
Aku menginginkan dirimu..
Aku tak sanggup..
Percayalah.. percayalah padaku.. pada hatiku...

"Bahagia itu Pilihan"
Membangkitkan kedewasaan spiritual, menciptakan kebahagian total.

Segitu dulu Kumpulan Filsafat Cinta Terbaik, semoga dapat inspirasi..